Sunday, April 20, 2014

I was a fan of her


When Ika natassa wrote about "muse" and her explanation of the various muse of great artists.
She is my muse...
behold in one blog post tittled "MUSE"
Guys.. just read to bottom yes?

MUSE


Jujur, aku sebenarnya tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Penulis itu penipu massal. Penulis fiksi maksudnya, seperti aku sekarang. Kerjanya menjual mimpi-mimpi yang jadi penyebab utama banyaknya perempuan jaman sekarang yang delusional, berharap akan bertemu laki-laki sempurna seperti di novel-novel tulisan penulis sepertiku. Membangun ekspektasi mustahil tentang kualitas pasangan. Ujung-ujungnya, pasangan sendiri saja sampai dibanding-bandingkan dengan tokoh idola fiksi mereka.

Tokoh rekaanku. Yang cuma ada di khayalan. Hasil percampuran setoples kastengels dan belasan cangkir kafein cair.

Terkadang, aku juga sering dituduh bahwa cerita-cerita yang aku tulis itu adalah kisah nyata. “Kenalin dong, Mbak, sama (isi nama tokoh fiksi laki-laki idola sejagad raya hasil khayalanku yang paling mutakhir), pasti ada orang benerannya kan? Ada kan? Ada kan? Mau dong ketemu aslinya.”

Girls, please, if guys like that exist, I would be too busy fucking them than write about them, don’t you think?

Kalau mereka mau sih.

Tapi masa nggak mau, gue keren gini. Udah, nggak usah protes.

Anyway, terkait pertanyaan-pertanyaan tentang tokoh nyata itu, aku harus akui, bahwa setiap seniman – penulis tergolong seniman juga kan? – pasti punya muse. Apa ya bahasa Indonesia-nyamuse? Sumber inspirasi? Ya itulah pokoknya.

Dalam mitologi Yunani, muse ini merupakan dewi-dewi yang menjadi inspirasi terciptanya karya seni, sains, dan sastra. Ada sembilan: Clio, Thalia, Erato, Euterpe, Polyhimnia, Calliope, Terpsichore, Urania, dan Melpmene, kesembilannya adalah anak perempuan Zeus dan Mnemosyne. Dalam kehidupan sekarang, yang menjadi muse seorang seniman tentu bukan lagi dewi-dewi ini – aku saja baru tahu nama-nama dewi-dewi setelah meng-Google – tapi orang yang bikin inspirasi mengalir. Bisa satu orang, bisa juga semua orang-orang yang kami temui sehari-hari.

Fashion designer biasanya yang paling kelihatannya muse-nya siapa. Kate Moss, sering disebut-sebut sebagai muse-nya Marc Jacobs. Audrey Hepburn menjadi muse Hubert de Givenchy sehingga lahir gaun hitam legendaris yang dipakai Hepburn di film Breakfast at Tiffany’s. Madonna, yes the singer, juga punya peran sebagai muse Jean Paul Gaultier. Christian Louboutin mengakui Dita von Teese sebagai muse-nya.

Di dunia film ada Tim Burton yang sepertinya tidak bisa lepas dari Johnny Depp dan Helena Bonham Carter. Di lukisan, Pablo Picasso menghasilkan karya-karya terbaiknya terinspirasi perempuan simpanannya, Marie-Thérèse Walter.

Tapi penulis jarang sekali menyatakan jelas-jelas siapa muse-nya. Contohnya Stephen King, di bukunya On Writing, cuma bilang: “Traditionally, the muses were women, but mine’s a guy; I’m afraid we’ll just have to live with that.” Siapa laki-laki yang dia maksud, tidak pernah diungkapkan. Dan setahuku, penulis-penulis terkenal lainnya, dari berbagai interview atau artikel yang pernah kubaca, juga tidak pernah membahas muse-nya siapa, biasanya yang mereka ceritakan adalah kebiasaan menulis. James Joyce menulis sambil tiduran tengkurep dengan menggunakan pensil berwarna biru. Virginia Woolf menyisihkan dua setengah jam setiap pagi untuk menulis, di atas meja yang dirancang khusus sehingga dia bisa ‘melihat’ karyanya dari dekat dan dari jauh. Hemingway suka mengetik naskahnya sambil berdiri. Agatha Christie mengunyah apel di dalam bak mandi sambil menghayal-hayalkan plot pembunuhan yang akan ia tulis. Dewi Lestari pernah menyewa kamar kos dan menulis di situ dari pagi sampai sore saat menyelesaikan Perahu Kertas.

Most writers talk about their writing habits, but rarely – if never – about their muse.

Me? Aku tidak punya meja yang dirancang khusus, tidak menulis sambil berdiri karena bok pegel kali, tidak juga mengunyah apel di bak mandi (mending mengunyah yang lain), atau sampai menyewa kamar kos. Tidak ada yang unik tentang ritual menulisku. Raia Risjad cuma bangun jam tujuh setiap Sabtu pagi, ada yang bikinin kopi dan toast, kemudian sarapan di atas tempat tidur sambil menuangkan apa pun ide yang di kepala ke laptop. That’s it. Bahkan sebelum mandi, aku bisa melahirkan belasan halaman.

But here I am, jam sebelas pagi, hampir setengah dua belas sebenarnya, duduk di depan laptop, dan halaman Word ini masih putih bersih. Cuma ada cursor yang berkedip-kedip menunggu digerakkan dari tadi. Dari jam tujuh pagi tadi.

Lebih tepatnya, sejak dua puluh empat bulan yang lalu. Waktu si mas-mas pembuat kopi dan toastitu meninggalkan rumah ini.

Aku bisa membayangkan sebalnya wajah Alam jika mendengar aku menyebutnya mas-mas.

In fact, Alam is far from the image of the so-called ‘mas-mas’. Tubuhnya tinggi, bahkan saat aku mengenakan hak tujuh sentimeter, kepalaku hanya sampai di ujung bibirnya. Kulitnya cerah, cenderung putih, yang membuat pipinya selalu kelihatan sangat memerah setiap dia kepanasan di luar, dan wajahnya selalu kesal setiap aku meledeknya: “Mbak, blush on-nya bagus, mereknya apa?” Rambutnya ikal, selalu dipotong pendek sempurna. Sempurna buat diacak-acak dan dijambak sedikit tiap aku sedang gemes. Dan bibir tipisnya selalu mencetus pelan dengan suaranya yang dalam: “Raia, aku ini laki-laki, bukan kucing peliharaan. Seneng banget sih ngacak-ngacak.”

*a teaser for my upcoming story entitled Muse, to be published later this year ;)

http://blog.ikanatassa.com/post/83262846354/muse